Your IP and Google Map location

Selasa, 14 Juni 2011

SEJARAH HMI

SEJARAH

A.    Pengertian
Sejarah adalah suatu kebetulan terjadi di masa yang telah lalu dan benar-benar terjadi, dan kebetulan pula dicatat, biasanya kebenaran sejarah didukung bukti- bukti yang membenarkan peristiwa itu benar-benar terjadi. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ilmu sejarah adalah suatu pengetahuan atau uraian mengenai peristiwa-peristiwa  dan  kejadian-kejadian  yang  benar-benar  terjadi  di  masa lampau atau  riwayat kejadian masa lampau yang benar-benar terjadi atau riwayat asal usul keturunan. Dari pengertian atau definisi di atas maka dapatlah dibedakan antara sejarah dan ilmu sejarah, sejarah adalah kejadian atau peristiwanya, sedangkan ilmu sejarah adalah ilmu yang mempelajari kejadian atau peristiwa tersebut.
Jadi sejarah adalah rentetan perbuatan hasil karya manusia. Ia adalah pelajaran dan pengetahuan tentang perjalanan masa lampau ummat manusia, mengenai apa yang dikerjakan, dikatakan dan dipikirkan oleh manusia pada masa lampau, untuk menjadi cerminan dan pedoman berupa pelajaran, peringatan, kebenaran bagi masa kini dan mendatang untuk mengukuhkan hati manusia.
B.    Manfaat Mempelajari Sejarah
Sejarah, meski banyak berbicara tentang masa lalu, tetapi ia tetap alat untuk lebih memahami hari ini, dan secara implisit memprediksikan kecendrungan-kecenderungan masa depan.
Manfaat  dan  kegunaan  yang  dapat  diambil  dari  kejadian  yang  telah  lampau adalah pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat itu, dan dengan   mempelajari   maka   dapat   diambil   hikmah/pelajaran dari   peristiwa tersebut.  Pada peristiwa yang terjadi dapat dianalisis kelebihan dan kekurangan yang  ada  dari  peristiwa  itu,  dan  pengetahuan  tersebut  dapat  meningkatkan kehati-hatian dalam mengambil   keputusan   pada   masa   saat   ini   dengan mempertimbangkan prinsip nilai yang terjadi di masa lalu, karena pada dasarnya peristiwa masa lalu linear dengan masa saat ini dan yang akan datang.
C.    Tujuan Mempelajari Sejarah HMI
Untuk meninjau dan meneliti secara sistematis dan penuh kritis masa yang lalu agar dapat dijadikan cerminan dan pedoman masa kini seterusnya agar dapat diterapkan arah perjuangan masa mendatang, bagi kepentingan perjauangan dimasa mendatang.
D.   Pengertian Sejarah menurut Para Ahli Sejarah
Beberapa pendapat ahli sejarah; 1). Moh. Yamin “Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dibuktikan dengan kenyataan”, 2). R. Moh Ali,Pengertian sejarah ada 3 yaitu: a). Sejarah adalah kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa seluruhnya yang berkaitan dengan kehidupan manusia. b). Sejarah adalah cerita yang tersusun secara sistematis (serba teratur dan rapi) c). Sejarah adalah ilmu yang menyelidiki perkembangan peristiwa dan kejadian-kejadian pada masa lampau.” 3). Patrick GardinerSejarah adalah ilmu yang mempelajari apa yang telah diperbuat oleh manusia.” 4). J.V Brice “Sejarah adalah catatan-catatan dari apa yang telah dipikirkan, dikatakan dan diperbuat oleh manusia.
Pengertian sejarah berbeda dengan pengertian Ilmu sejarah. Sejarah adalah peristiwa yang terjadi pada masa lalu manusia sedangkan Ilmu sejarah adalah ilmu yang digunakan untuk mempelajari peristiwa penting masa lalu manusia.
E.    Karakteristik ilmu Sejarah
Karakteristik Sejarah ada apabila dipersempit ada 3 macam; Unik, Penting, dan Abadi. Unik, artinya peristiwa sejarah hanya terjadi sekali, dan tidak mungkin terulang peristiwa yang sama untuk kedua kalinya.Penting, artinya peristiwa sejarah yang ditulis adalah peristiwa-peristiwa yang dianggap penting yang mempengaruhi perubahan dan perkembangan manusia Abadi, artinya peristiwa sejarah tidak berubah-ubah dan akan selalu dikenang sepanjang masa


LATAR BELAKANG PEMIKIRAN BERDIRINYA HMI

Jika ditinjau secara umum ada 4 (empat) permasalahan yang menjadi latar belakang sejarah pemikiran dan berdirinya HMI.
A.    Kondisi Umat Islam
  1. Umat Islam Internasional
Kondisi umat Islam dunia pada saat menjelang kelahiran HMI dapat dikatakan ketinggalan dibandingkan masyarakat Eropa dengan Reinasance-nya. Ini dapat dilihat dari penguasaan teknologi maupun pengetahuan, bahkan sebagain besar umat Islam berada di bawah ketiak penindasan nekolim barat yang notabene dimotori oleh kelompok Kristen. Umat Islam hanya  terpaku, terlena oleh kejayaan masa lampau atau pada zaman keemasan Islam. Umat Islam pada umumnya tidak memahami ajaran Islam secara komprehensif, sehingga mereka hanya berkutat seputar  ubudiyah atau ritual  semata tanpa memahami bahwa ajaran Islam adalah ajaran paripurna yang tidak hanya mengajarkan hubungan manusi dengan Tuhan, namun lebih jauh daripada itu menderivasikan hubungan transenden ke dalam seluruh aspek kehidupan.
Akibat dari ketertinggalan ummat Islam, maka munculah gerakan untuk menentang keterbatasan seseorang melaksanakan ajaran Islam secara benar dan utuh (kaffah). Gerakan ini disebut Gerakan Pembaharuan. Gerakan Pembaharuan ini ingin mengembalikan ajaran Islam kepada ajaran yang totalitas, dimana disadari oleh kelompok ini, bahwa Islam bukan hanya terbatas kepada hal-hal yang sakral saja, melainkan juga merupakan pola kehidupan manusia secara keseluruhan. Untuk itu sasaran Gerakan Pembaharuan atau reformasi adalah ingin mengembalikan ajaran Islam kepada proporsi yang sebenarnya, yang berpedoman kepada Al Qur'an dan Hadist Rassullulah SAW.
Dengan timbulnya ide pembaharuan itu, maka Gerakan Pem-baharuan di dunia Islam bermunculan, seperti di Turki (1720), Mesir (1807). Begitu juga penganjurnya seperti Rifaah Badawi Ath Tahtawi (1801-1873), Muhammad Abduh (1849-1905), Muhammad Ibnu Abdul Wahab (Wahabisme) di Saudi Arabia (1703-1787), Sayyid Ahmad Khan di India (1817-1898), Muhammad Iqbal di Pakistan (1876-1938) dan lain-lain.
  1. Umat Islam Indonesia 
Tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di dunia saat itu, umat Islam berada dalam cengkaraman nekolim barat. Penjajah memperlakukan umat Islam sebagai  masyarakat kelas bawah dan diperlakukan tidak adil, serta hanya menguntungkan kelompok mereka sendiri atau rakyat yang sudah seideologi dengan mereka.
Umat Islam Indonesia  hanya mementingkan kehidupan akhirat (katanya sich), dengan penonjolan simbolisasi Islam dalam ubudiyah, sebagai upaya kompensasi    atas ketidakberdayaan untuk melawan nekolim, sehingga pemahaman umat tidak secara benar dan kaffah. Bahkan ada sebagian ulama ang menyatakan bahwa pintu  ijtihad telah ditutup, hal ini menyebabkan umat hidup dalam suasana taqlid dan jumud. Selain itu umat Islam Indonesia berada dalam perpecahan berbagai macam aliran/firqah dan masing-masing golongan melakukan truth claim, hal ini menyebabkan umat Islam Indonesia tidak kuat akibat kurang persatuan di kalangan umat Islam di Indonesia.
Kondisi ummat Islam sebelum berdirinya HMI dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) golongan, yaitu : Pertama : Sebagian besar yang melakukan ajaran Islam itu hanya sebagai kewajiban yang diadatkan seperti dalam upacara perkawinan, kematian serta kelahiran. Kedua : Golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya yang mengenal dan mempraktekkan ajaran Islam sesuai yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Ketiga : Golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya yang terpengaruh oleh mistikisme yang menyebabkan mereka berpendirian bahwa hidup ini adalah untuk kepentingan akhirat saja. Keempat : Golongan kecil yang mencoba menyesuaikan diri dengan kemajuan jaman, selaras dengan wujud dan hakekat agama Islam. Mereka berusaha supaya agama Islam itu benar-benar dapat dipraktekkan dalam masyarakat Indonesia.
B.    Kondisi NKRI
  1. Penjajahan Belanda dan Tuntutan Kemerdekaan
Tahun 1596, Cornelis de Houtman mendarat di Banten. Sejak itulah Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun, membawa tiga hal, (1). Penjajahan itu sendiri dengan sengaja bentuk dan manifestasionya, (2) Misi dan zending agama kristen, (3). Peradaban barat dengan ciri sekulerisme dan liberalisme.
Penjajahan itu sendiri membawa dampak yang luas, dan dan dalam, bagi perjalanan kehidupan bangsa Indonesia untuk waktu yang lama, dari berbagai aspek kehidupan :
a.       Aspek Politik.
Seluruh rakyan dan negara Republik Indonesia menjadi obyek jajahan Belanda, sebelumnya, Indonesia adalah negara yang bebas merdeka, tidak terikat dengan bengsa manapun. Kebebsan yang sebenarnya yang dimiliki bangsa Indonesia dirampas secara paksa, sehingga tidak memiliki kedaualatan baik kedalam maupun keluar.
b.       Aspek Pemerintahan.
Dalam menangani semua urusan-urusan VOC di Asia, tahun 1610 diciptakan jabatan Gubernur Jendral. Penunjuk dan penempatan Gubernur Jendral Belanda di Indonesia merupakan isyarat bahwa Indonesia, telah menempatkan dibawah pemerintahan Kerajaan belanda yang berkedudukan di Netherland. Pengkokohan kekuasaan dilakukan dengan mengantikan nama Jayakarta m,enjadi Batavia 12 Maret 1619. dibangun pula pusat militer dan adminstrasi. Dengan demikian terbangun dan terciptalah dasar-dasar kerajaan belanda yang pertama di Indonesia.
c.        Aspek Hukum.
Sebagai negara jajahan, pelaksanaan hukum bertentangan dengan kondisi sosoilogi masyarakat Indonesia. Hokum adalah kekuasaan dan kekuatan, sehingga si lemah tidak mampu tegak di muka hokum. Orang-orang Islam diperlukan secara tidak adil dan diskriminatif. Tetapi sebaliknya menguntungkan belanda dan orang yang sudah memeluk agama Kristen.
d.       Aspek Pendidikan.
Dalam melihat sejauh mana aspek pendidikan ini berpengaruh dalm kehidupan umat islam. Hal ini anatara lain disebabkan ikut campur tangannya penjajah belanda, terlihat dari kebijakan politik penjajah Belanda. Keikutsertaan pemerintah belanda mecampuri bidang pendidikan di indonesiadidasarkan untuk memepertahankan kelestarian penjajahan belanda di Indonesia. Maka kebujaksanaan di bidang pendidikan sebagai factor yang akan menghacurkan kekuatan islam di Indonesia. Pada akhir abad ke-19 Snouck Hurgronje sangat optimis bahwa islam tidak akan sanggup bersaing dengan pendidikan barat. Agama islam bersifat dan penghalang kemajuan, sehingga harus dimbangi dengan meningkatkan taraf kemajuan penduduk pribumi.
e.       Aspek Ekonomi.
Pembentukan perserikatan Maskapai Hindia timur, VOC (Vereenigde Ooscindischt Compagnie). Pada bulat maret 1602, merupakan momentum bagi penguasaan ekonomi Indonesia oleh penjajah belanda. Semboyan Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen yang terkenal perdagangan tidak dapat dikuasi tanpa perang atau melakukan perang tanpa adanya perdagangan. Guna memperoleh pemasukan keuangan dan meraup keuntungan besar, Gubernur Johannesvan de Bosch 91830 – 1833) mengintrodusir cultuurstelsel  atau tanam paksa berupa kemoditi ekspor seperti kopi, tebu, dan nila kemudian dijual dengan harga pasti kepada belanda.
f.         Aspek Budaya.
Akibat tidak ada pengawasan terhadap perkembangan masyarakat, bermunculah alran-aliran kebuidVayaan secara bebas. Dengan sendirinya terjadilah perjuangan dan persaingan antara satu dengan yang lain, aliran kebudayaan itu adalah : 1). Aliran kebudayaan barat, yang diwakili amerika, belanda dll. 2). Komunisme dan sosialime, 3). Agama Kristen Prostetan dan Khatolik. 4). Aliran kebudayaan kebangsaan yang cendrung kepada sosialisme (Marxisme). 5). Aliran kebtinan kesusilaan (Hindia- jawa).
g.       Aspek Keagamaan.
Kedatangan penjajahan belanda keindonesia pada abad XVI, juga ditandai oleh tiga hal: Misi Perdagangan, Misi Penjajahan, Misi Agama.

  1. Berkembangannya Ajaran Komunis
Berkembangnya faham dan ajaran komunis di Indonesia, sebagai salah satu faktor yang melatar belakangi munculnya pemikiran dan berdirinya HMI, mempunyai sejarah yang panjang. Komunis adalah buah pikiran yang dicetuskan Mark dan Engells pada abad ke-19, serta diberi interpretasi oleh Lenin dan Stalin.
Menurut Frans Magnis- Suseno, komunisme adalah sebuah sistem kekuasaan totaliter, berdasarkan sebuah ideologi. Totaliter karena kekuasaan dipegang secara mutlak oleh partai komunis. Partai itu merasa berhak menentukan segala seluk beluk kehidupan masyarakat secara tak terbantah. Perbedaan pendapat dalam partai ditindak. Hukum menjadi sarana dalam tangan partai, demi untuk mempertahankan kedudukan. Komunisme memusuhi agama dan mempropragandakan ateisme atau anti agama. Kehidupan beragama ditekan dan sering direpresikan. Komunisme adalah anti demokrasi, dan tidak mengakui hak- hak azasi manusia. Ideologi resmi komunisme adalah Marxisme, Leninisme, sebuah perpaduan antara ajaran Karl Mark Friederich Engles dan Wladimir llyie Lenin.
Mark dan Lenin berpendapat bahwa agama merintangi proses ke arah sosialisme dam harus dilenyapkan. Konteks orientasi ajaran ideologi komunis, yang tertuang dalam dialektikmaterialisme. DIAMAT yang bertitik tolak dan meateri sebagai satu- satunya kenyataan. Maka sejak awal komunisme Rusia adalah antithesisme yang fanatik. Agama tidak dibenarkan hidup dan berkembang di masyarakat. Karena sikap dan pandangan itu, secara teratur dan berencana, berusaha memberantas agama, dan mencanangkan propaganda anti agama. Agama disebut sebagai pelarian, sebagai candu dalam masyarakat. Mark tidak percaya pada alam gaib, menentang agama, menentang adanya Allah dan kekuasaan Allah. Kedudukan agama di soviet Rusia, diatur dalam Undang-Undang dasar yang menyebutkan : “ freedom of worship and freedom of antireligion propagation”, “kemerdekaan melaksanakan gerak sholat, dan kemerdekaan propaganda anti agama. Tidak ada jaminan tentang propaganda agama. Sebaliknya, yang dijamin adalah propaganda anti agama. Seorang yang mempropagndakan agama dengan mudah dicap sebagai musuh negara. Karena aktivitasnya tidak dijamin oleh undang- undang dasar. Lenin pernah menulis, bahwa agama itu adalah musuh materialisme terbesar.  Kedudukan agama dan pemeluk agama di Rusia termasuk meinderheid dalam hukum kenegaraan, dan agama harus selalu berada dalam pengawasan tertinggi Pemerintah Soviet.
Atas faham dan pengertian seperti itulah, komunis masuk ke Indonesia. Sebelum masuknya paham dan ajaran komunis diIndonesia, telah ada dua paham yang berkembang. Pertama, agama Islam yang sudah berakar dan telah masuk ke Indonesia pada abad ke I Hijriyah atau abad VIII Masehi langsung dari Arab. Kedua pada awal abad XX muncul pula paham nasionnalisme atau kebangsaan, yang bersamaan timbulnya pada saat bangsa Indonesia mengalami kebangkitan nasional yang ditandai berdirinya Serikat Dagang Islam tahun 1905 dan Budi Utomo tahun 1908. Maka, Islamisme, nasionalisme, marxisme bertemu, bersaing dipanggung perpolitikan dan sejarah nasional bangsa Indonesia dengan segala dinamika dan romantikanya.
Embrio komunisme di Indonesia berawal dari ISDV (Indische Social Democratische Vereening, Perhimpunan Sosial- Demokrat Hindia) bentukan Sneevliet dan teman-temannya tahun1914. Setelah gagal mendapat simpati dari tokoh- tokoh pergerakan beraliran nasionalis, Sneevliet tahun 1916 mulai mendekati SI (Sarekat Islam) yang dinilai punya kekuatan massa besar. Penilaian itu tidak salah. Melalui penetrasi ideologis yang intensif kedalam tubuh SI, akhirnya masyarakat revolusioner pribumi terbelah menjadi dua: sayap Islam dan sayap Marxis. Secara resmi tanggal 23 Mei 1920 ISDV dirubah menjadi Partai Komunis Indonesia( PKI) dengan Semaun dan Darsono sebagai Presiden dan wakil presidennya.
Faham Komunis yang dikembangkan melalui Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) dan Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) yang berkedudukan di Surakarta, sehingga kedua organisasi ini berhaluan Komunis. Berdirinya kedua organisasi mahasiswa yang berhaluan komunis itu, maka paham dan ideologi komunis mulai beranjak dan merasuk ke dunia Perguruan Tinggi dan kemahasiswaan.

C.    Kondisi Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan
Perguruan tinggi adalah tempat untuk  menuntut ilmu yang akan menghasilkan para pemimpin untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Selain itu perguruan tinggi adalah motor penggerak perubahan, dan perubahan tersebut diharapkan menuju sesuatu yang lebih baik. Begitu pentingnya perguruan tinggi, maka banyak golongan yang ingin menguasainya demi untuk kepentingan golongan tersebut.
Sejalan dengan perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan yang strategis tersebut, ada beberapa faktor dominan yang menguasai dan mewarnai perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan, antara lain sistem yang diterapkan khususnya di perguruan tinggi adalah sistem pendidikan barat yang mengarah pada  sekularisme  dan  dapat menyebabkan dangkalnya agama atau aqidah dalam kehidupan. Selain itu adanya organisasi kemahasiswaan yang berhaluan komunis dan ini   menyebabkan  aspirasi Islam dan umat Islam kurang terakomodir.
Ada dua faktor yang sangat dominan yang mewarnai Perguruan Tinggi (PT) dan dunia kemahasiswaan sebelum HMI berdiri. Pertama: sistem yang diterapkan dalam dunia pendidikan umumnya dan PT khususnya adalah sistem pendidikan barat, yang mengarah kepada sekulerisme yang "mendangkalkan agama disetiap aspek kehidupan manusia". Kedua: adanya Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) dan Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) di Surakarta dimana kedua organisasi ini dibawah pengaruh Komunis. Bergabungnya dua faham ini (Sekuler dan Komunis), melanda dunia PT dan Kemahasiswaan, menyebabkan timbulnya "Krisis Keseimbangan" yang sangat tajam, yakni tidak adanya keselarasan antara akal dan kalbu, jasmani dan rohani, serta pemenuhan antara kebutuhan dunia dan akhirat.

D.   Tuntutan Modernitas dan Tantangan Masa Depan
Kritikan terhadap HMI datang dari dalam maupun dari luar HMI. Kritikan itu sangat positif. Karena dengan kritikan itu HMI akan mengetahui kekurangan dan kesalahan yang diperbuatnya, sehingga dapat diperbaiki untuk masa mendatang. Penilaian mungkin terlalu subjektif, jika evaluasi dan kritikan itu datang dari dalam. Kritikan yang tajam dan paling banyak dialamatkan pada HMI, 1) Independensi HMI, 2) Kerjasama dengan ABRI, 30 Sikap HMI terhadap komunis, 4) Tuntutan negara Islam, 5) Adaptasi rasional, 6) Dukungan terhadap rehabilitasi Masyumi, dan berdirinya Partai Muslimin, 7) Mengutuk malari, 8) Penerimaan Pancasila sebagai satu – satunya asas, 9) Adaptasi rasional II, 10) Masalah – masalah internal HMI. (makalah khusus tentang kritikan ini telah ditulis dengan judul kritik terhadap sejarah misi HMI).
Melalui kritikan itu banyak pihak menilai dari dalam maupun dari luar bahwa kredibiltas HMI mengalami kemunduran. Ada bebrapa terapi yang diajukan untuk memulihkan kredibilitas HMI tersebut. Pertama M. Yahya Zaini Ketua Umum PB HMI (1993-1995) sebelum berlangsungnya kongres ke-20 HMI di Surabaya tahun 1995 mengemukakan suatu resep : 1) Revitalisasi. Melakukan revitalisasi berarti meyakini dan meyadari sedalam – dalamnya bahwa keluarga besar HMI secara bersama – sama mengemban tugas yang luhur dan mulia, dibentuk oleh inti daya hidup yang membentuk jati diri HMI sebagai kader diri organisasi dengan ciri keIslaman, keindonesiaan, dan kemahasiswaan. 2) Reaktualisasi, suatu upaya untuk melanjutkan, mendinamisasikan, dan menumbuh kembangkan pengahyatan dan pengamalan HMI terhadap nilai – nilai keIslaman dan keindonesiaan secara utuh, pardu, harmonis dan menyeluruh. 3) Refungsionalisasi, dimaksudkan sebagai suatu keharusan kreatif dan terus menerus guna mengembangkan struktur dan fungsi organisasi, guna mendukung da menompang prose aktualisasi dan reaktualsisi, sistem kehidupan organisasi, di semua aspeknya dalam rangka pengembangan peran dan fungsi organisasi itu sendiri. 4) restrukturisasi. Struktur dan fungsi organisasi menjadi pendukung gerak dan proses dengan aktualisasi yang selalu berkembang dan berubah. Kedua, yang dikemukakan Ketua Umum PB HMI periode 1997 – 1999 Anas Urbaningrum dalam tulisannya di Harian Umum Republika Jakarta tanggal 27 September 1997 ketika akan dilatik sebagai Ketua Umum PB HMI periode 1997 – 1999. terapi pertama, dengan Politik Etis HMI. Kemudian peningkatan Visi, Intelektualitas, Penguasaan Basis dan terakhir Modernisasi Organisasi.
Untuk mencapai tujuan HMI harus dipersiapkan suatu kondisi sebagai modal untuk merekayasa masa depan, dan memprediksi masa depan bangsa Indonesia. Sebenarnya hal itu sudah tertuang dalam tujuan HMI dan dielaborasi menjadi lima kualitas insan cita HMI. Secara global 5 kualitas insan cita itulah yang dipersiapkan HMI untuk merekayasa dan prediksi masa depan bangsa Indonesia.
Tantangan yang dihadapi HMI dan bangsa Indonesia sangat kompleks. Tetapi justru dengan tantangan itu menjadi peluang yang sangat baik yang dimiliki HMI untuk memperjuangkan cita – citanya sehingga menjadi kenyataan di tengah – tengah masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar